Resensi film Before the flood

before the flood photo

Diterbitkan: 21 October 2016

Direktur: Fisher Stevens

Skenario: Mark Monroe

Produser: Leonardo Dicaprio, Brett Ratner, Fisher Stevens, James Packer, Jennifer Davisson Killoran, dan Trevor Davidoski.

Cast: Leonardo Dicaprio, Barack Obama, Elon Musk, Bill Clinton, Pope Francis, dan John Kerry.

Dipersembahkan oleh: National Geographic

Leonardo Dicaprio bertemu dengan beberapa ilmuan dari berbagai negara untuk mendiskusikan tentang perubahan iklim dan apa solusi yang paling memungkikan untuk terjadi.

Advertisements

Before the flood

Before the flood adalah sebuah film dokumentasi yang dibintang aktor Leonardo Dicaprio dan di publikasi oleh National Geographic.

Film ini adalah tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Leo diangkat menjadi duta perdamaian PBB. Leo di tugaskan untuk pergi ke berbagai negara untuk mengetahui apa masalah pemanasan global negara masing-masing.

Disalah satu negara yang ia kunjungi, ia mengunjungi Amerika dan Kanada. Di Amerika dan Kanada menceritakan kerusakan hutan akibat eklorasi bahan bakar fosil, sebuah perusahaan mengundulkan hutan untuk mendapatkan pasir bersih.

Setelah Leo pergi ke Ameerika dan Kanada, ia pergi ke China. China adalah pabrik dunia, memproduksi barang-barang untuk di jual ke beberapa negara. China memiliki banyak pabrik, sehingga banyak polusi keluar dari pabrik tersebut. Karena polusi udaranya sangat kuat anak-anak tidak di perbolehkan untuk pergi ke sekolah.

Setelah China, Leo pergi ke India. India termasuk negara yang paling kuat polusinya. Di India, banyak warga yang belum dapat mengakseskan energi listrik di rumah masing-masing. Penduduk India menggunakan kotoran sapi dan batu bara sebagai energi di rumah.

Leo pergi ke Indonesia. Sesampai di Indonesia, Leo pergi ke Sumatra. Di Sumatra banyak hutan gundul karena hutan-hutan dibakar untuk lahan perkebunan sawit. Sawit digunakan untuk minyak goreng, kosmetik, dan sabun. Leuser, Aceh adalah gunung yang ada banyak orang utan, gajah, badak, dan harimau. Namun, karena pembakaran hutan, hewan-hewan tersebut mulai punah.

 

 

Berkunjung ke Pasar Sederhana (nyaba pasar)

Perjalananku ke Pasar Sederhana

Hai, nama aku Cayla, aku sekolah di Semi Palar, aku sekarang duduk di bangku kelas 7. Saat tanggal 19 Oktober 2017, aku dan teman-teman sekelasku datang ke Pasar Sederhana untuk melihat keadaan Pasar Sederhana sekarang. Kami bertemu di depan pintu gerbang I pada pukul 7.20.

Pada hari Rabu, sehari sebelumnya, kami sudah mendapat arahan untuk persiapan nyaba pasar. Kami ditugaskan membuat jurnal kecil yang berisi denah, sejarah dan informasi umum Pasar Sederhana, hasil wawancara, penginderaan dalam pasar, potensi dan masalah pasar, serta denah.

Kamis pagi, kami dibagi menjadi 3 kelompok dan mulai berpencar. Aku dan kelompokku mulai mencari orang-orang untuk diwawancarai tentang informasi umum pasar tersebut. Kami menanyakan kepada para pembeli mengapa mereka memilih belanja di pasar ini, apa kelebihan dan kekurangan fasilitas pasar ini, dan informasi umum pasar lainnya. Banyak pembeli yang bilang mereka senang berbelanja di Pasar Sederhana karena murah dan lengkap, tapi banyak juga yang bilang pasarnya kurang bersih, kurang rapi, dan becek. Kami juga menanyakan beberapa pertanyaan kepada para penjual seperti: mengapa jualan di pasar ini, taukah informasi umum pasar, sehari biasanya ada berapa orang yang membeli, jualan apa, umur, nama, sudah berapa lama jualan di pasar ini, apa kekurangan dan kelebihan pasar ini, dan sebagai apa di pasar ini. Banyak yang bilang merka pilih jualan di Pasar Sederhana karena banyak pembeli yang datang.

Pasar Sederhana ini mulai ada sejak tahun 1967, saat Pemerintah Daerah Kotamadya DT II Bandung mengadakan Operasi Sanagori di Kota Bandung. Kegiatan dari operasi tersebut adalah menerbitkan surat keputusan tentang pedagang kaki lima, salah satu yang diterbitkan adalah di Jalan Sukajadi karena jalan tersebut sangat semerawut. Di pasar ini sering terjadi kebakaran karena berbeda-beda penyebab, seperti korsleting dan gas bocor. Di pasar ini kurang lebih ada 1.500 kios, setiap kios menjual berbagai bahan makanan, ada yang menjual daging sapi, daging ayam, daging babi, daging ikan, sayuran, permen, cemilan-cemilan, beras, baju, makanan, bawang, dan lain-lain, dan di pasar ini ada 3 lantai.

Pasar ini sangat luas, tapi sayangnya pasar ini kotor dan tidak rapi, aku seringkali tak sengaja menginjak lumpur dan genangan air. Di pasar ini sangat ribut, aku mendengar suara orang-orang saling berbicara, suara seseorang bernyanyi, suara mesin seperti mesin bor, dan suara air yang deras, bukan suara air hujan tapi suara air dari akuarium ikan yang bertumpahan. Jadi benar apa yang dikatakan oleh para pembeli bahwa pasar ini tidak terlalu nyaman.

Setelah selesai, kami istirahat di depan gerbang I. Aku dan Aliyah, seorang temanku, membeli cakue untuk berbagi dengan teman-teman yang lain. Setelah istirahat, kami mulai berjalan kaki ke arah tempat piknik yang sudah direncanakan sebelumnya, baru kemudian pulang ke sekolah.

Dari kunjungan ke pasar Sederhana, aku bisa membandingkan perbedaan yang sangat jauh antara pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional lebih luas, kotor, murah, dan kurang lengkap sedangkan pasar modern lebih kecil, bersih, mahal, dan lebih lengkap.

Cerita kehidupanku (auto biografi)

Cerita hidupku selama 12 tahun terakhir

Nama panjangku adalah Cayla Sidqiya Nafarin. Aku lahir pada tanggal 21 Mei 2005 di kota Bandung, Indonesia. Sebelum aku lahir keluargaku terkena musibah Tsunami di Aceh pada tahun 2004, kejadian itu terjadai ketika aku sedang di perut ibuku, karena kejadian itu saat kecil aku takut kepada hujan. Aku sudah tinggal di Pekanbaru selama 11 tahun, jadi aku sudah mengikuti kebudayaan Melayu dan Minang. Aku memiliki 2 kakak perempuan. Kak Arlene, kak Bunga, dan aku berjarak 5 tahun. Dari kecil aku sudah senang bergambar dan memasak. Dulu saat aku masih balita, aku senang berbicara dengan orang yang aku tidak kenal, dan mulai berteman dengan mereka tapi itu berhenti sejak aku mulai SD aku tidak tahu kenapa, jadi aku gampang berteman dengan orang-orang. Saat aku masih kecil aku mirip sekali dengan kakakku yang kedua (kak Bunga).

Nama ayahku adalah Ari Rachman Nafarin, ayahku lahir pada tanggal 17 April 1967 di kota Malang. Pekerjaan ayahku adalah seorang polisi di Jakarta. Ayahku keturunan dari Banjar Masin dan Indramayu.

Nama ibuku adalah Raden Widiya Nurul Sabina, ibuku lahir pada tanggal 21 April 1970 di kota Bandung. Pekerjaan ibuku adalah seorang wira usaha di Bandung. Ibuku adalah murni orang Sunda.

Ayahku dan ibuku bertemu saat ibuku sedang duduk di bangku SMP kelas 8 dan ayahku sedang duduk di bangku SMA kelas 11. Ibuku menemui ayahku karena ayahku adalah teman taekwondonya bibiku. Ayahku melamar ibuku melewati telepon

Kakakku yang pertama bernama Arlene Nadya Nafarin, ia lahir pada tanggal 8 oktober 1995, di kota Jakarta. Kakakku baru saja lulus kuliah di ITENAS, ia mengambil jurusan dekafe.

Kakakku yang kedua bernama Bunga Denisa Nafarin, ia lahir pada tanggal 18 Agustus 2000, di kota Jakarta. Kakakku sekarang bersekolah di SMAN 2 dia sedang duduk di bangku kelas 12. Kakakku yang kedua ingin kuliah di UNPAD, dia ingin mengambil jurusan kelautan.

Aku masuk SD saat berumur 6 tahun, teman-temanku cukup baik dan menyenangkan, dulu kami senang bermain masak-masakan, menggambar, membaca buku, main jual-jualan sekelas. Meskipun kami lumayan sering bertengkar tentang hal-hal kecil kami selalu mendapatkan solusi sendiri dan saling memaafkan satu sama lain.  Sahabatku dari kelas 1 sampai kelas 6 bernama Aristy Aleeya dipanggil Tya, kami jarang sekali berantam, selama 6 tahun kami hanya pernah berantam 2 kali. Sekarang, karena aku pindah ke Bandung kami jarang berkomunikasi karena kami sibuk dengan kepentingan sendiri. Saat aku kelas 2, aku mulai sering bermain dengan laki-laki. Saat kelas 5 mulai banyak murid-murid perempuan kelasku yang menjauhiku karena mereka suka ngomong tentang aku yang buruk-buruk, dan akhirnya kami memaafkan satu sama lain.

Pada tahun 2014 aku dan keluarga terkena musibah lagi, kapal kayu yang kami kendarai patah ketika ada badai besar menantikan kami saat kami sedang berlibur ke Padang, keluargaku berlayar dari Padang kesebuah pulau kecil bernama Pulau Pagang, Pulau Pagang itu lumayan kecil tapi begitu indah sekali, lautannya biru kehijau-hijauan, ikannya banyak, koralnya sedikit, banyak bayi kepiting berkumpul di pinggir pantai, banyak pohon kelapa, dan tersedia 4 hammock di pohon kelapa tersebut. Dalam perjalanan pulang, mesin motor kapal kami mati dan tidak bisa menyala lagi padahal saat mesinnya mati ada timsar yang melewati kapal kami, lalu pemilik kapal tersebut menelfon temannya untuk datang kemari dan mengganti kapal, tapi saat kapal lainnya sudah datang kapal kami sudah terpecah belah dan badai sudah datang, kakakku yang pertama dan sepupuku terperangkap di bawah kapal dan mereka terbawa kebawah dasar laut, meskipun sepupuku seorang atlet renang dia tidak bisa melakukan apa-apa karena panik, tapi akhirnya sepupuku dan kakakku selamat dan sudah pergi ke pinggir pantai, di pulau kecil ini banyak sapi, kami ketemu sebuah gubuk di dekat pinggir pantai, lalu kami bertemu dengan kakek-kakek yang mempunyai gubuk tersebut, dia membawa kami kesebuah gubuk kecil yang lain, digubuk kecil tersebut kakek-kakek yang mempunyai gubuk kecil tersebut membuat kami indomie untuk berbagi, setelah makan indomie kami wudhu dari sumber air yang di dekat gubuk. Kami tidur di sebuah kamar kecil, saat jam 12 pagi ibuku mendengar suara pria yang sudah familiar, ternyata suara pria tersebut adalah suara kawan ayahku yang seorang timsar, kami disuruh evakuasi melewati kesebuah pulau lain untuk pergi ke desa yang berpenghuni, teman ayahku cerita bahwa kami sangat beruntung karena kami tenggelam saat air laut sedang surut, beberapa bulan sebelum kami tenggelam ada seorang pria yang mencoba evakuasi sendiri dan dia evakuasi saat air laut sedang tidak surut lalu ia hanyut terbawa ombak, mayatnya ditemulan beberapa hari setelah ia meninggal. Kami evakuasi tengah malam sekitar jam 1 gelap-gelap, dan dingin-dingin. Kami saat evakuasi membagi kelompok menjadi 4 kelompok, kelompokku adalah kelompok pertama di barisan dan pada akhir-akhirnya kelompokku di barisan terakhir, saat kelompokku di tengah tengah perjalanan kelompok keluargaku sudah sampai di titik tujuan. Akhirnya sampai di hotel kami semua mandi dan istirahat. Hari pertama sekolah semua orang cemas tentangku dan menanyakan banyak pertanyaan dan bagaimana aku tenggelam.

Saat kelas 5, aku mulai tidak suka situasi angkatan, temanku hanya ada Tya, Maya, dan Chaca. ‘Temanku’ membenciku karena aku bersahabat dengan orang yang ia sukai. Suatu hari kami sedang bermain basket, aku sekelompok dengan Chaca, Nindya, Ori, Mifta, Alya,Huhu, dan Tya. Dan kelompok musuhku ada Zainab, Maya, Fara, Naila, Fatma, Hanum, dan Affin. Beberapa orang di kelompok ‘temanku’ banyak yang bermain tidak adil, ada yang tarik-tarik jilbab, tendang kaki lawannya, dan mendorong, aku, Chaca, dan Nindya pun bilang ke guru olahragaku, dan ‘temanku’, Huhu, dan Fatma mendengar percakapanku dengan guruku tentang mereka tidak bermain adil dan mereka menangis karena merasa “dituduh”. Dan ‘temanku’ cerita kepada sahabatku yang sekaligus ia suka bahwa aku menuduhnya, dan akhir-akhirnya teman dekatku membenciku karena ‘temanku’ tersebut, aku cerita kepada sahabatku apa yang sebenarnya terjadi dan dia meminta maaf kepadaku, sahabatku marah kepada ‘temanku’, dan ‘temanku’ makin membenciku. Anehnya, ‘temanku’ tersebut selalu curhat kepadaku jika ia sedang “bete” atau sedang galau. Ketika musuhku ulang tahun seluruh kelas membuat surprise untuknya(termasuk aku), saat itu aku sedang baik, seluruh kelas pura-pura membencinya dan pura-pura mendiaminya, ia pun tidak suka seluruh kelas mendiaminya, ia cerita kepadaku sambil menangis bahwa ia benci semua orang kecuali aku yang di kelas karena kami mendiaminya, dan pada saat jam pulang kami memberi tau kepadanya bahwa itu semua hanya surprise dan memberinya kado. Dan pada hari musuhku pindah ke Kediri kami semua nangis(iya, aku juga), kecuali Huhu dan Affin. Tapi sekarang aku sudah memaafkannya.

Pada hari terakhir kami menjadi murid kelas 5 Chaca dan Nindya menangis karena sebentar lagi kami akan memasuki kelas 6 dan akan tamat SD.

Saat aku kelas 6, guruku adalah Bu Rahma dan Bu Yuli, mereka adalah salah satu guru yang paling baik dan paling dekat, saat kelas 6 salah seorang sahabatku, Chaca, sering diejek oleh anak laki-laki angkatanku, Chaca dulu pernah bercerita kepadaku bahwa ia sangat sedih mendengar ejekan mereka, sehingga ia menangis dan tidak mau melihat anak laki-laki yang mengejeknya itu. Chaca adalah seorang pemberani dan jarang nangis, jadi aku tahu bahwa ia benar-benar tidak suka diejek oleh mereka, lalu aku tegur kepada para anak laki-laki tersebut bahwa mereka tidak perlu mengejek Chaca seperti itu, dan pada akhirnya mereka meminta maaf kepada Chaca.