Resensi buku: Cinta Tak Ada Mati

 

Cover buku cinta tak ada mati-eka kurniawanMardio adalah seorang lelaki tua yang kesepian, ia menyukai seorang perempuan yang sama sejak ia berumur 14 tahun. Nama perempuan tersebut adalah Melatie. Mardio dan Melatie bertemu ketika Mardio berkerja di sebuah bioskop, Melatie datang bersama orang tuanya. Mardio mengalami cinta pada pandangan pertama. Melatie dan orang tuanya selesai nonton, ketika mereka berjalan pulang Mardio mengikuti mereka dari belakang. Setelah Mardio mengetahui di mana mereka tinggal, Mardio mulai perlahan-lahan mendekati Melatie, ia suka mengirimi puisi-puisi dengan pos merpati dan memberi tiket film gratis. Namun, Melatie memilih orang lain, Melatie bertemu dengan seorang dokter, tetapi Mardio masih setia menunggu. Mardio mencoba segala cara untuk mendapatkan Melatie, namun cara-caranya Mardio selalu gagal. Menunggu setia untuk Melatie mulai membuat Mardio sakit, akhirnya ia pergi ke sebuah psikolog. “Lupakan gadis itu,” kata si dokter psikolog. Mardio mencoba untuk mencari perempuan lain, tetapi gagal lagi. Mardio seperti memiliki sebuah obsesi dengan Melatie. Ia masih mencintai Melatie meskipun Melatie sudah meninggal. Sampai-sampai ia mencium bibir sang dokter hanya untuk merasakan bekas bibirnya Melatie.

 

 

Advertisements

The Unique Teacher Named Medina Zaharah Onn

Medina Zaharah Onn is a 11 years old girl from Malaysia, she is volunteering as an art teacher for disabled kids with special needs at a foundation called YIREH.

When I saw this video of Medina, I feel like Medina is teaching me (indirectly) to be more patient, more kind, more understanding, more controling, and more trusting. Now I realized that I often get mad with people that I can actually handle and still understands me, I wonder how I would be if I was Medina. I love how Medina is making a connection and interacting with people that have special needs even though its probably hard to communicate with them, and from my reference, communication is the key, she must be a hardworker. From what I saw, Medina is really inspiring, kind, calm, patient, and really mature for kids of her age. From the video I can get that I have to be more understanding. 

When I am older, I plan to join a community that helps people with a mutual problem. Example; people who suffer with hunger, cultures that are almost extinct,  fosters, etc. I want to be the photographer or the videographer, but I also want to help. Hopefully I can talk about this with my cousin that travels to lots of places in Indonesia where or when or what to do so I can start to volunteer.

Jalan-jalan Keliling Bandung

Pada hari Selasa tanggal 28 Agustus 2018, aku dan teman-teman kelasku pergi ke Stasiun Kereta Api Bandung Pintu Utara untuk melakukan sebuah perjalanan kecil. Sebelumnya, tema besar kelas kami adalah Pulau Jawa. Dan, kegiatan ini adalah sebuah latihan untuk perjalanan besar. Kata kakak sih mirip sama perjalanan besar, tapi, hanya perjalanan kecil ini hanya untuk sehari saja, sedangkan perjalanan besar untuk lima hari.

Kami berkumpul di dalam pintu depan Stastiun Kereta Api Bandung Pintu Utara pada jam 7. Dan keluar dari stasiun kereta api pada jam 7.30. Kami keluar dari Jalan Kebon Kawung menuju Jalan Asia Afrika. Kami jalan dari Jalan Kebon Kawung-Jalan Stasiun Timur-Jalan Lembong-Jalan Braga-dan akhirnya sampai di Jalan Asia Afrika.

Dari Jalan Asia Afrika aku dan kelompokku jalan menuju Jalan Banceuy. Selagi jalan ke Jalan Banceuy, Zacky, salah seorang anggota kelompokku bercerita bahwa jembatan penyeberangan yang terletak di Jalan Asia Afria pernah ada orang yang bunuh diri.

Ketika kami berada di Jalan Banceuy, aku mencium bau-bau yang tidak nikmat. Aku mencium bau pipis yang pesing. Dari Jalan Banceuy kami pergi ke Toko Jamu Babah Kuya yang terletak di Jalan Pasar Barat. Mereka memiliki dua toko yang terletaknya sangat dekat dengan satu sama lain. Terdapat di papan toko bahwa Toko Jamu Babah Kuya telah berdiri sejak tahun 1800an. Ketika aku masuk ke dalam gedungnya bau pesing yang dari Jalan Banceuy hilang, semua yang aku cium adalah aroma wangi rempah-rempah. Wanginya sangat enak sehingga aku ingin diam di dalam toko tersebut. Di dalam toko jamu tersebut, kelompokku mewawancara seorang ibu-ibu yang berkerja di toko tersebut tentang warga Jawa yang datang ke Bandung. “Untuk kuliner mungkin?” Jawab si ibu

Resensi film Before the flood

before the flood photo

Diterbitkan: 21 October 2016

Direktur: Fisher Stevens

Skenario: Mark Monroe

Produser: Leonardo Dicaprio, Brett Ratner, Fisher Stevens, James Packer, Jennifer Davisson Killoran, dan Trevor Davidoski.

Cast: Leonardo Dicaprio, Barack Obama, Elon Musk, Bill Clinton, Pope Francis, dan John Kerry.

Dipersembahkan oleh: National Geographic

Leonardo Dicaprio bertemu dengan beberapa ilmuan dari berbagai negara untuk mendiskusikan tentang perubahan iklim dan apa solusi yang paling memungkikan untuk terjadi.

Before the flood

Before the flood adalah sebuah film dokumentasi yang dibintang aktor Leonardo Dicaprio dan di publikasi oleh National Geographic.

Film ini adalah tentang pemanasan global dan perubahan iklim. Leo diangkat menjadi duta perdamaian PBB. Leo di tugaskan untuk pergi ke berbagai negara untuk mengetahui apa masalah pemanasan global negara masing-masing.

Disalah satu negara yang ia kunjungi, ia mengunjungi Amerika dan Kanada. Di Amerika dan Kanada menceritakan kerusakan hutan akibat eklorasi bahan bakar fosil, sebuah perusahaan mengundulkan hutan untuk mendapatkan pasir bersih.

Setelah Leo pergi ke Ameerika dan Kanada, ia pergi ke China. China adalah pabrik dunia, memproduksi barang-barang untuk di jual ke beberapa negara. China memiliki banyak pabrik, sehingga banyak polusi keluar dari pabrik tersebut. Karena polusi udaranya sangat kuat anak-anak tidak di perbolehkan untuk pergi ke sekolah.

Setelah China, Leo pergi ke India. India termasuk negara yang paling kuat polusinya. Di India, banyak warga yang belum dapat mengakseskan energi listrik di rumah masing-masing. Penduduk India menggunakan kotoran sapi dan batu bara sebagai energi di rumah.

Leo pergi ke Indonesia. Sesampai di Indonesia, Leo pergi ke Sumatra. Di Sumatra banyak hutan gundul karena hutan-hutan dibakar untuk lahan perkebunan sawit. Sawit digunakan untuk minyak goreng, kosmetik, dan sabun. Leuser, Aceh adalah gunung yang ada banyak orang utan, gajah, badak, dan harimau. Namun, karena pembakaran hutan, hewan-hewan tersebut mulai punah.

 

 

Berkunjung ke Pasar Sederhana (nyaba pasar)

Perjalananku ke Pasar Sederhana

Hai, nama aku Cayla, aku sekolah di Semi Palar, aku sekarang duduk di bangku kelas 7. Saat tanggal 19 Oktober 2017, aku dan teman-teman sekelasku datang ke Pasar Sederhana untuk melihat keadaan Pasar Sederhana sekarang. Kami bertemu di depan pintu gerbang I pada pukul 7.20.

Pada hari Rabu, sehari sebelumnya, kami sudah mendapat arahan untuk persiapan nyaba pasar. Kami ditugaskan membuat jurnal kecil yang berisi denah, sejarah dan informasi umum Pasar Sederhana, hasil wawancara, penginderaan dalam pasar, potensi dan masalah pasar, serta denah.

Kamis pagi, kami dibagi menjadi 3 kelompok dan mulai berpencar. Aku dan kelompokku mulai mencari orang-orang untuk diwawancarai tentang informasi umum pasar tersebut. Kami menanyakan kepada para pembeli mengapa mereka memilih belanja di pasar ini, apa kelebihan dan kekurangan fasilitas pasar ini, dan informasi umum pasar lainnya. Banyak pembeli yang bilang mereka senang berbelanja di Pasar Sederhana karena murah dan lengkap, tapi banyak juga yang bilang pasarnya kurang bersih, kurang rapi, dan becek. Kami juga menanyakan beberapa pertanyaan kepada para penjual seperti: mengapa jualan di pasar ini, taukah informasi umum pasar, sehari biasanya ada berapa orang yang membeli, jualan apa, umur, nama, sudah berapa lama jualan di pasar ini, apa kekurangan dan kelebihan pasar ini, dan sebagai apa di pasar ini. Banyak yang bilang merka pilih jualan di Pasar Sederhana karena banyak pembeli yang datang.

Pasar Sederhana ini mulai ada sejak tahun 1967, saat Pemerintah Daerah Kotamadya DT II Bandung mengadakan Operasi Sanagori di Kota Bandung. Kegiatan dari operasi tersebut adalah menerbitkan surat keputusan tentang pedagang kaki lima, salah satu yang diterbitkan adalah di Jalan Sukajadi karena jalan tersebut sangat semerawut. Di pasar ini sering terjadi kebakaran karena berbeda-beda penyebab, seperti korsleting dan gas bocor. Di pasar ini kurang lebih ada 1.500 kios, setiap kios menjual berbagai bahan makanan, ada yang menjual daging sapi, daging ayam, daging babi, daging ikan, sayuran, permen, cemilan-cemilan, beras, baju, makanan, bawang, dan lain-lain, dan di pasar ini ada 3 lantai.

Pasar ini sangat luas, tapi sayangnya pasar ini kotor dan tidak rapi, aku seringkali tak sengaja menginjak lumpur dan genangan air. Di pasar ini sangat ribut, aku mendengar suara orang-orang saling berbicara, suara seseorang bernyanyi, suara mesin seperti mesin bor, dan suara air yang deras, bukan suara air hujan tapi suara air dari akuarium ikan yang bertumpahan. Jadi benar apa yang dikatakan oleh para pembeli bahwa pasar ini tidak terlalu nyaman.

Setelah selesai, kami istirahat di depan gerbang I. Aku dan Aliyah, seorang temanku, membeli cakue untuk berbagi dengan teman-teman yang lain. Setelah istirahat, kami mulai berjalan kaki ke arah tempat piknik yang sudah direncanakan sebelumnya, baru kemudian pulang ke sekolah.

Dari kunjungan ke pasar Sederhana, aku bisa membandingkan perbedaan yang sangat jauh antara pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional lebih luas, kotor, murah, dan kurang lengkap sedangkan pasar modern lebih kecil, bersih, mahal, dan lebih lengkap.